Sabtu, 29 Mei 2010

Penanggulangan Dampak Global Warming bagi Petani

Di mata para peneliti, hal yang lebih mudah adalah memperbaiki usaha tani daripada menjalankan berbagai rekomendasi lainnya terkait dengan penurunan emisi gas metana di Asia. Hal ini dikarenakan penurunan gas emisi dengan mengurangi penggunaan batu bara dan beralih ke sumber energi lainnya diperkirakan akan mengguncang ekonomi negara-negara di Asia.


Berbagai industri akan terguncang jika secara mendadak beralih ke energi alternatif. Mereka tidak siap untuk mengubah sumber energi dalam waktu singkat. Harga energi alternatif juga tidaklah murah, di samping konversi itu juga membutuhkan biaya.

Studi tentang penurunan emisi metana dalam produksi padi telah dilakukan pada tahun 2005. Aslam Khalil dan Martha Searer dari Universitas Portland Amerika Serikat telah mencoba perubahan usaha tani untuk menstabilkan emisi gas metana ke udara. Dari penelitian mereka diketahui pengairan sawah secara berlebihan akan mendorong emisi gas metana.
Beberapa negara telah berupaya untuk mengurangi produksi gas metana itu. Persoalan muncul dari teknik budidaya alternatif hingga sosialisasinya agar produksi gas metana bisa berkurang. Tahun ini IRRI membentuk Konsorsium Padi dan Perubahan Iklim untuk menilai dampak langsung dan tidak langsung perubahan iklim terhadap produksi padi. Konsorsium ini, seperti dikutip Rice Today, juga akan mengembangkan strategi dan teknologi produksi padi yang mengadaptasi perubahan iklim serta mencari manajemen yang bisa mereduksi emisi gas melalui intensifikasi. Pada tahap awal IRRI memfokuskan pada perbaikan varietas padi yang tahan terhadap panas. Sejumlah ahli telah dilibatkan dalam proyek ini.
Sementara itu Thailand sudah menyosialisasikan tentang kemungkinan-kemungkinan pengurangan pemanasan global yang bisa dilakukan para petani. Para petani juga mengakui bahwa mereka sudah mendapat sosialiasi dari pemerintah mengenai cara-cara mengurangi emisi gas metana.
 Pemerintah Thailand menjelaskan dampak pembakaran sisa tanaman akan menghasilkan karbon dioksida. Pengairan sawah yang berlebihan juga akan menghasilkan gas metana. Gas-gas inilah yang menimbulkan efek rumah kaca.
Indonesia, menurut Direktur Pengairan Departemen Pertanian Gatot Irianto, sebenarnya tidak termasuk negara yang berkewajiban menurunkan emisi gas rumah kaca. Emisi gas rumah kaca Indonesia masih tergolong kecil. Selama ini sumber gas rumah kaca terbesar berasal dari industri yang berada di negara-negara maju.

“Meski demikian, kami telah menerapkan Pengelolaan Tanah dan Tanaman Terpadu maupun Sistem Intensifikasi Padi yang menurunkan pasokan air ke sawah sehingga produksi gas metana berkurang. Kemungkinan mereduksi gas rumah kaca adalah dengan sistem irigasi macak-macak,” kata Gatot. Sistem dengan pengairan yang tidak berlebihan itu akan mengurangi produksi gas metana.
Terkait dengan pemanasan global, Gatot mengatakan, Indonesia malah termasuk dalam korban perubahan iklim global. Indonesia terkena dampak dari pemanasan global seperti kekeringan dan banjir yang terjadi selama ini. Saat kemarau akan mengalami kekeringan yang hebat, sedangkan saat musim hujan akan terjadi banjir besar. Di samping itu hutan yang ada karena kekeringan, sebagai dampak pemanasan global, menjadi sensitif terhadap kebakaran.
Departemen Pertanian sudah berupaya menurunkan emisi gas rumah kaca seperti meminimalkan pembukaan lahan gambut serta menghindarkan pembakaran sisa tanaman. Badan Litbang Departemen Pertanian mengenalkan sistem terpadu tanaman dengan peternakan yang menggunakan sisa tanaman untuk pakan ternak. Sistem ini meminimalkan pembakaran sisa tanaman yang bisa memproduksi karbon dioksida. Meski berbagai upaya dilakukan oleh sejumlah negara, diperkirakan sampai 2020 masih akan terjadi peningkatan emisi metana hingga 16 persen dibanding 2005. Persoalan lain menjadi pendorong produksi gas metana.
Di samping negara maju belum banyak mengurangi produksi gas emisi, di negara berkembang perluasan sawah masih terus terjadi. Perluasan sawah masih terus terjadi karena adanya desakan kebutuhan peningkatan produksi pangan negara-negara itu. Seorang peneliti mengingatkan, untuk membicarakan masalah pemanasan global kepada petani, pemerintah tidak bisa membicarakan masalah ini terlepas dari persoalan tradisi, penghasilan, dan juga pemenuhan kebutuhan pokok.
Hal itu masih menjadi kendala upaya pengkajian ulang usaha tani padi menghadapi masalah pemanasan global. Perubahan usaha tani padi sulit dilakukan jika tidak mengaitkannya dengan problem kemiskinan yang ada di pedesaan.
 Para petani diperkirakan tidak akan mau mengubah usaha tani mereka yang sudah dilakukan bertahun-tahun tanpa jaminan kejelasan penghasilan. Sistem insentif petani diusulkan agar petani mau mengubah usaha tani padi meski hal ini tidak gampang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar